320x100

Prihatin dengan Elvy Sukaesih, Bapak Ini Tulis Panjang Beri Nasihat Baik Begini...


UMI

TEMEN masa kecil gue namanya Paril. Masih remaja sudah jadi preman Pasar Benhill. Dalam usia yg masih muda tewas over dosis kecanduan morfin. Narkoba paling top dan mahal jaman jadul, yg dia beli dr duit dolar hasil nodong bule saat dia markirin mobil.

Itulah pertama kali gue tahu ganasnya narkoba. Pertama kali gue melihat fakta kayak apa itu sakau. Dan kalo badan temen gue sudah nagih, pil apa pun dia embat, termasuk menelan beberapa butir pil anjing yg pernah bikin mulutnya berbusa2 dan sekarat.

Keluarga Paril kenal baik dgn keluarga gue. Seperti kebanyakan orang Minang, kami tumbuh dr keluarga yg agamis. Keluarga yg harus bisa ngaji dan rajin sholat. Tapi apa orangtua agamis jadi jaminan anak2 bebas dr urusan maksiat dan obat? Gak.

Lihat saja putra putri raja dan ratu dangdut Buya Oma dan Umi Elvy. Beda dengan penyanyi dangdut yg suka tampil seronok, mereka sosok penyanyi yg belakangan selalu tampil dan mencitrakan dirinya sangat agamis.

Mereka yg kalo ngomong selalu fasih mengucapkan "alhamdulillah", "masya Allah", "astaqfirullah", dan sebagainya. Bahkan sang raja menulis lagu "mirasantika" sebagai pengingat kita akan bahaya narkoba.

Tapi tampilan dan sikap agamis, ternyata bukan jaminan mereka bisa menjauhkan anak2 mereka dr jerat narkoba. Seperti juga tampilan dan sikap agama presiden suatu partai berbasis agama atau mantan menteri agama yg terjerat candu yg gak kalah jahat dr narkoba, KORUPSI. Absurd.

Apa yg salah dgn mereka atau kita sebagai orang tua? Kenapa agama sepertinya gak berhasil menolong anak2 mereka bahkan diri mereka sendiri.

Lagi2 gue inget ucapan temen baik gue di kampus, jauh sebelum banyak contoh2 manusia agamis yg gagal membentengi dirinya dgn agama. Kata temen gue "Kenapa temen2 gue yg agamanya gak jelas kok jauh lebih baik perilakunya drpd temen2 gue yg sikap beragamanya jelas." Apa iya ya?

Gue sendiri gak tahu jawaban pastinya apa. Tapi temen gue betul. Sekarang di negeri ini kehidupan beragama makin lama makin kacau. Yg asli ulama dibego2in. Yg asli bego diulama2in. Semua seperti sudah terbolak balik. Kalo dulu orang jahat beragama utk berubah jadi baik, sekarang orang baik beragama malah berubah jadi jahat.

Setiap hari yg dipikirin bukan agamanya sendiri, tp malah sibuk mikirin agama orang lain. Coklat yg enak dan nikmat dibilang haram, kencing onta yg bau pesing dan najis malah dibilang halal. Kacau dan menyedihkan.

Gara2 kekacauan itu gue juga termasuk orang tua yg takut anak2 gue terjerat narkoba. Tapi belajar dr ortu gue, yg selalu memberi contoh, mendoakan, dan menanamkan hal2 baik yg jadi inti ajaran agama sejak kecil, jauh lebih efektif ketimbang mencekokin dgn simbol2 agama yg cuma keren tampak kulit luarnya tp busuk isi di dalamnya.

Tapi yg gak kalah penting jangan cuma asyik beragama utk diri sendiri, tapi melupakan menyebarkan kebaikan buat orang2 di sekeliling, bahkan anak sendiri. Akibatnya, celah yg renggang itu dimanfaatkan para pengedar narkoba menawarkan kebaikan semu yg gak dia dapatkan dr rumah lewat orang tuanya. Para orangtua yg gak sadar dirasuki iblis berjubah agama yg setiap hari sibuk mematut2 diri di cermin dgn seragam agamisnya.

Sebagaimana hukum kekekalan DNA, sifat orangtua akan menurun pada anaknya. Tapi gue yakin hakul yakin, turunan sifat baik bukan gak mungkin bisa berubah, dan turunan sifat jahat bukan gak mungkin bisa diubah.

Gimana caranya? Berlaku baiklah pada sesama manusia yg jadi inti ajaran semua agama. Dukunglah orang2 baik siapa pun dia dan apa pun agamanya. Cuma itu cara paling ampuh menyelamatkan keluarga, negara, generasi muda, dr kerusakan, termasuk narkoba.

Buat Umi Elvy yg lagu2nya, goyangnya, suara sengaunya, kerling mata genitnya pernah menghiasi masa remaja gue, turut berduka atas musibah yg menimpa anak2 anda. Jangan marahi mereka, tapi peluklah mereka.

Salam peluk juga buat anak2 Indonesia tercinta.

#indonesiadaruratnarkoba

-ramadhan.syukur-

Sumber: FB Ramadhan Syukur

0 Response to "Prihatin dengan Elvy Sukaesih, Bapak Ini Tulis Panjang Beri Nasihat Baik Begini..."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel