320x100

Ketua RT Yang Arak Pasangan Kekasih di Cikupa Menangis, Takut Jatuh Miskin. Lihat videonya!


CeriNews.com - Jalannya persidangan kasus persekusi yang dilakukan ketua RT bersama sejumlah warga di Cikupa tangerang diwarnai haru. Ketua RT yang saat itu mengarak pasangan kekasih  itu saat ini sudah menjalani proses persidangan.

Komarudin yang mejabat Ketua RT itu tak kuasa membendung air matanya.

Bahka ia menyesal karena telah melakukan persekusi dengan cara yang tidak manusiawi.

Berikut rangkuman fakta-fakta disidang:

1. Kronologi

Pasangan kekasih yakni R dan MA menjadi korban penganiayaan sekelompok orang karena dituduh berbuat me**m di sebuah rumah kontrakan di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Kepala Polres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif menceritakan kronologi peristiwa yang terjadi pada Sabtu (11/11/2017) malam itu.

Menurut Sabilul, awalnya MA minta dibawakan makanan oleh R. Sekitar pukul 22.00 WIB, R tiba di kontrakan MA untuk mengantarkan makanan. Dua sejoli itu pun masuk ke dalam kontrakan untuk menyantap makan malam bersama.

"Ketua RT berinisial T menggedor pintu (kontrakan MA), pintunya tidak tertutup rapat," ujar Sabilul dalam akun instagramnya, @m.sabilul_alif, Selasa (14/11/2017) seperti dilansir dari Kompas.com.

Menurut Sabilul, saat itu T datang bersama dua orang lainnya berinisial G dan NA.

Usai menggedor pintu dan masuk ke dalam kontrakan, ketiga orang itu memaksa R dan MA mengakui mereka telah berbuat me**m.

"Keduanya dipaksa untuk mengakui perbuatan 'itu' dan sempat tiga orang inisial G, T, dan A memaksa laki-laki untuk mengaku dan sempat mencekik," ucap dia.

Pernyataan ini sanga berbeda dengan pernyataan istri ketua RT bahwa yang dilakukan suaminya adalah untuk menegakkan kebenaran dan itu butuh keberanian. Videonya bisa dilihat mulai menit ke- 1:57



2. Diarak

Kedua pasangan kekasih yang berinisila R dan MA tak mau mengaku saat warga mendesak dengan sejumlah pertanyaan.

Akibatnya, pasangan kekasih itu diarak oleh massa ke depan sebuah ruko yang berjarak sekitar 200 meter dari kontrakannya.

Menurut Kepala Polres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif, awalnya kedua pasangan itu hendak dibawa ke rumah ketua RW.

Namun, setiba di depan ruko, massa malah menganiaya dan melucuti pakaian keduanya.

"Di situlah mereka dipaksa, ditempeleng, dipukuli untuk mengaku. Bahkan, yang paling menyedihkan dari salah satu ini membuka baju perempuan untuk memaksa. Yang laki-laki melindungi dan juga sudah tidak menggunakan baju sama sekali," kata Sabilul.

"Setelah diinterogasi, (R dan MA) langsung dikembalikan ke kontrakan," ujarnya.


3. Korban Alami Trauma

Melansir Kompas.com, Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif mengatakan, perempuan yang diarak mengalami trauma mendalam.

Perempuan berinisial MA itu tidak mau keluar rumah dan menolak bertemu dengan siapa pun.

"Masih trauma, enggak mau bertemu siapa-siapa," ujar Sabilul saat dikonfirmasi, Kamis (16/11/2017).

Sabilul mengatakan, saat ini MA ditempatkan di safe house.

MA didampingi tim psikiater hingga kondisi kejiwaanya kembali normal.

"Kami dampingi terus, ya. Kami datangkan psikiater untuk mengobati traumanya itu. Sebab, kan, dia sampai enggak mau bertemu orang juga, berat itu," kata Sabilul.

4. Pelaku persekusi ditangkap polisi

Polisi telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus main hakim sendiri itu.

Mereka adalah G, T, A, I, S, dan N.

T merupakan Ketua RT 007 Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Menurut Sabilul, T merupakan orang pertama yang menggerebek dan memobilisasi massa.

Sabilul menambahkan, G selaku ketua RW diduga terlibat menganiaya R dan MA.

Dia melakukan itu beserta empat pelaku lain.

"Perannya ini yang mengikat, kan, ada di video itu yang memegang tangan perempuan itu, ada peran juga yang memegang, ada yang memukul, ada yang ikut membuka pakaian," kata Sabilul.

Para pelaku terancam dijerat Pasal 170 KUHP tentang Penganiayaan juncto Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

5. Ketua RT Pelaku persekusi menangis di Pengadilan


Komarudin, Ketua RT terdakwa kasus persekusi pasangan kekasih di Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang pada November 2017, menangis saat membacakan nota pembelaan.

Melansir dari Kompas.com, dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Tangerang, Komarudin tak kuasa menahan tangis sambil memegang surat yang ditulisnya.

Ia mengawali pembacaan surat pembelaan dengan memohon maaf kepada korban, M (20) dan R (28).

"Izinkan saya sekali lagi memohon maaf sebesar-besarnya, khususnya kepada korban dan keluarga besarnya, itu (tindakan persekusi) hanya emosi sesaat saya saja," kata Komarudin di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (3/4/2018).

Komaruddin (ketua RW) menangis setelah mengikuti sidang pembelaan yang dilaksanaan di Pengadilan Negeri Tangerang.

Sambil terus membaca nota pembelaannya, ia sesekali mengusap air mata dan tangannya bergetar. Tangisannya disambut suara sesegukan anggota keluarga yang hadir di ruang persidangan.

Dengan suara bergetar, ia memperkenalkan diri sebagai seorang tukang ojek yang bekerja di sebuah perumahan.

"Saya jadi terpidana harus jauh terpisah dengan keluarga saya. Saya sudah pasti akan kehilangan sumber kehidupan kepada keluarga yang sangat saya cintai, apalagi sampai jatuh miskin," ujarnya.

Dalam kasus ini, Komarudin dituntut hukuman penjara 7 tahun karena melanggar Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan, Pasal 335 KUHP tentang Pembiaran dan Pasal 29 Undang-undang Pornografi.

Tahun 2017, ia bersama lima orang warga menggerebek sebuah rumah kontrakan yang dihuni M karena ada dugaan mesum.

Pakaian M dan kekasihnya, R, dilucuti dan diarak keliling Kampung Kadu, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang sepanjang 400 meter.

0 Response to "Ketua RT Yang Arak Pasangan Kekasih di Cikupa Menangis, Takut Jatuh Miskin. Lihat videonya!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel