320x100

Kisah Haru Pentolan Islam dan Kristen Bersaudara, “Kalau Mau Bunuh Saya, Bunuh Mereka Dulu”


CeriNews.com - Iskandar Slameth dan Ronald Regan menggelorakan semangat perdamaian mulai kota hingga pedalaman. Iskandar dan Ronald yang dulu ikut berperang karena beda agama, kini hidup rukun layaknya saudara.

AGFI SAGITTIAN, Ambon

HANYA ada secarik kertas dan pena di hadapan puluhan orang di ruangan itu. Suasana temaram. Hanya cahaya lilin yang menerangi.

Di kertas itu, mereka semua, yang terbagi dalam dua kelompok, muslim dan Kristen, diminta untuk menumpahkan semua rasa benci dan dendam. Segala kemarahan muara dari konflik sektarian panjang sejak akhir 1990-an di kampung halaman mereka di Ambon, Maluku.

Namun, di tengah keheningan, tiba-tiba Ronald Regan si komandan pasukan Agas (sebutan untuk tentara anak Kristen) tiba-tiba bangkit.

“Kita paling sayang kamu semua. Kita semua bersaudara,” katanya.

Dengan segera ketegangan di antara dua kelompok itu lebur. Semua yang ada di ruangan sebuah gedung di Jogjakarta pada 2006 tersebut menangis.

Iskandar Slameth, pentolan di pasukan Jihadis Mini (sebutan untuk tentara anak muslim), dengan segera memeluk Ronald.

“Hari ini sampai kapan pun kita saudara. Kamu mau pergi ke mana pun, beta akan di depan kamu,” katanya.

Semua itu diceritakan oleh Ronald dan Iskandar dengan penuh kehangatan dalam perbincangan dengan Jawa Pos di Ambon dan Pantai Ora, Maluku Tengah, pertengahan November lalu. Tiap kali diwawancarai, Ronald dan Iskandar duduk berdampingan.

Di depan mereka, selalu ada dua bungkus rokok. Selama wawancara, keduanya silih berganti membakar ujung lintingan tembakau tersebut.

Interaksi dua sahabat itu begitu hangat. Mereka saling melempar tawa. Lucunya, tak jarang Ronald menyapa Iskandar dengan panggilan “Beb”.

“Tapi, kalau lagi ada cewek cantik, jangan panggil Beb lah, nanti dikira kita pacaran,” ujar Ronald, berkelakar.

Ronald lebih sering bercanda, sementara Iskandar cenderung lebih dewasa dan pendiam. Sekilas, jika melihat kebersamaan mereka berdua, tak ada yang menyangka bahwa keduanya pernah terlibat kebencian. Sebab, yang tampak adalah keakraban layaknya dua anak muda yang bersahabat sejak kecil.

Padahal, dulu keduanya bersama kelompok masing-masing berhadapan sembari menghunus senjata.

Iskandar ingat benar bagaimana amarah itu bermula. Di usia masih 13 tahun, saat Idul Fitri 1999, seorang pemuka muslim tewas dipanah.

Beberapa waktu kemudian, Iskandar juga mendengar kabar bahwa kaki kakak perempuannya hancur karena serangan bom dan sepupunya meninggal gara-gara terlibat konflik.

Namun, di waktu yang bersamaan, Ronald yang baru berusia 10 tahun juga tak kalah muntab. Keluarga besarnya di kampung dibantai. Ibu dan adiknya memang berhasil mengungsi ke Manado, Sulawesi Utara. Namun, dia terjebak di Medan akibat konflik di Ambon.

Konflik di Ambon terus bergulir sampai sekitar 2002. Perang tersebut menelan korban lebih dari 5.000 orang dan lebih dari 0,5 juta masyarakat mengungsi ke sebagian besar Kepulauan Maluku.

Iskandar maupun Ronald sebelumnya sudah berpikir bahwa hidup mereka akan dihabiskan dengan perang. Juga, mungkin kehilangan nyawa dalam kecamuk berdarah itu.

Namun, forum perdamaian di Jogjakarta 12 tahun silam itu akhirnya berhasil mengubur dendam dan amarah tersebut.

Sepulang dari Jogjakarta, Ronald dan Iskandar kembali ke kampung halaman dengan hati yang lebih damai. Dari sebelumnya bermusuhan, mereka berdua justru ganti bergandengan mengampanyekan perdamaian di kalangan anak-anak muda.

Ronald mengaku memberanikan diri untuk berkunjung seorang diri ke kampung muslim sepulang dari Jogjakarta. Menemui Iskandar dan rekan-rekan lainnya.

“Mengharukan sekali. Saya datang ke kampung yang dulu saya datang untuk berperang, tapi saat itu datang untuk bakar-bakar ikan, lalu makan ramai-ramai,” kenang Ronald.

Pernah suatu saat, lanjut Ronald, ketika dirinya berada di kampung muslim, sekelompok masyarakat di sana mendengar kabar bahwa ada seorang anak Kristen (yang tak lain adalah Ronald) di tengah-tengah mereka. Ronald sempat diburu. Kelompok yang mencari itu pun mendatangi keluarga muslim tempat Ronald berkunjung.

“Saya sudah berpikir akan habis pada waktu itu,” kenangnya.

Namun, yang membuat terharu, keluarga muslim tempat dia berkunjung itu menegaskan bahwa Ronald adalah saudara. Mereka mengatakan kalau ada yang mau bunuh Ronald, maka bunuh keluarga muslim dulu.

“Kalau mau bunuh saya, harus bunuh mereka dulu. Itu saya langsung menangis,” beber Ronald.

Secara bergantian, Iskandar juga rutin berkunjung ke kampung Ronald. Berusaha lebih dekat dengan anak muda Kristen di sana. Dari frekuensi pertemuan yang sering itu, terpikir oleh Iskandar dan Ronald untuk membuat sebuah komunitas.

“Ada yang membuat kami lupa dengan perbedaan agama, yaitu saat kami bicara seni dan budaya. Saat kami main musik tradisional bersama, bikin puisi bersama, itu semua bikin kami lupa kami muslim, kami Kristen,” beber Iskandar.

Akhirnya, pada 2015, terbentuk payung komunitas anak muda yang mereka namai Paparisa Ambon Bergerak.

Senjata perdamaian yang bernama seni dan budaya itulah yang sampai kini dipertahankan betul. Komunitas terus berkembang sampai sekarang dan melibatkan hampir sebagian besar anak muda di Maluku.

“Selama ini, kami bahkan sampai tidak bisa mendata berapa banyak yang bergabung. Dari kota sampai pedalaman-pedalaman,” urai Ronald.

Melalui wadah seni dan budaya, Iskandar dan Ronald tak menyangka bahwa virus perdamaian tersebar dengan sangat cepat. Satu per satu kelompok anak muda dari berbagai kampung dan agama berdatangan untuk bergabung dalam komunitas.

Secercah harapan yang bernama perdamaian itu mulai muncul setelah ada Piagam Malino II pada 2002. Dua kombatan muda tersebut bertemu dengan Jacky Manuputty, salah seorang pendeta yang datang ke Ambon untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak yang terlibat konflik.

Saat itu Jacky yang sering bekerja sama dengan PBB dan Unicef giat menggelar forum-forum yang mempertemukan anak muda muslim dan Kristen.

Pertemuan tak dilakukan di Ambon. Anak-anak tersebut dibawa ke kota lain seperti Jogjakarta dan Jakarta, bahkan ke negara Filipina, untuk bertemu dengan psikolog dan pendamping ahli lain. Tentu tak melalui proses yang pendek dan mudah.

Kini Paparisa Ambon Bergerak hampir setiap minggu memiliki berbagai aktivitas. Di antaranya, yang paling sering seperti kelas sastra, public speaking, sejarah, kewirausahaan, dan musik.

“Paparisa ingin membiasakan seluruh elemen muda Kota Ambon bertemu, duduk bersama, agar kerusuhan yang terjadi di masa lalu tak terulang,” ujar Ronald.

Karena gigihnya perjuangan Ronald dan Iskandar, foto mereka berdua sampai pernah dipasang di jalan masuk salah satu kampung tempat komunitas menggelar acara.

“Foto itu dipasang sebagai bentuk apresiasi kepada kami yang disebut sebagai ikon perdamaian anak muda di Ambon. Lucunya, baliho yang berisi foto kami berdua lebih besar daripada foto calon gubernur yang ada di sebelahnya, hahaha,” ucap Iskandar, berkelakar.

(*/c11/ttg/pojoksatu.id)

0 Response to "Kisah Haru Pentolan Islam dan Kristen Bersaudara, “Kalau Mau Bunuh Saya, Bunuh Mereka Dulu”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel